----WELCOME TO MY BLOG---SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA---

"tidak ada gading yang tak retak...tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, seperti halnya segala sesuatu yang berada dalam blog ini. Namun dengan ketidaksempurnaan itu bukan berarti halangan untuk berkarya dan menjadi pribadi yang lebih baik dimasa depan :), semoga blog ini dapat bermanfaat bagi kita semua :)..."

Jumat, 04 Maret 2011

Pemanfaatan dan aplikasi foto udara dalam ruang lingkup geologi


Foto udara merupakan salah satu jenis citra penginderaan jauh dengan wahana berupa pesawat terbang rendah sampai terbang tinggi dengan ketinggian terbang 1000 meter sampai 18.000 meter dari permukaan bumi. Sehingga data – data yang terekam dalam citra foto udara memiliki tingkat keakuratan yang lebih tinggi daripada citra satelit tetapi dengan luas wilayah yang terekam jauh lebih kecil dari citra foto satelit. Foto udara memiliki skala yang jauh lebih besar dari citra satelit (spaceborne), sehingga jumlah informasi geometri maupun ketelitiannya juga jauh lebih tinggi. Citra satelit seperti Landsat atau SPOT lebih berguna untuk daerah yang sangat luas tapi tidak memerlukan informasi geometri yang rinci. Pengambilan foto udara sangat tergantung pada cuaca, dan hanya bisa beroperasi selama ada sinar matahari yang cukup. Namun secara umum tingkat akurasi geometri foto udara masih lebih tinggi, sehingga untuk peta berskala besar masih digunakan foto udara.
Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi.
Interpretasi foto udara secara umum dapat digunakan sebagai bahan pembuat peta topografi serta pemetaan sumber daya alam baik hayati maupun non hayati. Pemanfaatan dan aplikasi foto udara dalam ruang lingkup geologi dapat diterangkan sebagai berikut :
4.1 Eksplorasi Minyak Bumi
Bumi memiliki permukaan dan variabel yang sangat kompleks. Relief topografi bumi dan komposisi materialnya menggambarkan bebatuan pada mantel bumi dan material lain pada permukaan dan juga menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Masing-masing tipe bebatuan, patahan di muka bumi atau pengaruh-pengaruh gerakan kerak bumi serta erosi dan pergeseran-pergeseran muka bumi menunjukkan perjalanan proses hingga membangun muka bumi seperti saat ini. Eksplorasi sumber minyak dimulai dengan pencarian karakteristik pada permukaan bumi yang menggambarkan lokasi deposit. Pemetaan kondisi permukaan bumi diawali dengan pemetaan umum (reconnaissance), dan apabila ada indikasi tersimpannya mineral, dimulailah pemetaan detil. Kedua pemetaan ini membutuhkan kerja validasi lapangan, akan tetapi kerja pemetaan ini sering lebih mudah jika dibantu foto udara atau citra satelit. Setelah proses pemetaan, kerja eksplorasi lebih intensif pada metode-metode geofisika, terutama seismik, yang dapat memetakan konstruksi bawah permukaan bumi secara tiga dimensi untuk menemukan lokasi deposit secara tepat. Kemudian dilakukan uji pengeboran.
Pada saat pemetaan umum inilah citra foto udara hasil penginderaan jauh dapat dianalisis lebih lanjut agar dapat memperoleh interpretasi struktur geologi berupa lipatan atau patahan yang kemungkinan dapat menjadi jebakan minyak bumi pada daerah onshore. Beberapa ladang minyak dapat secara langsung mengindikasikan keberadaan hidrokarbon dari kenampakan di permukaan misalnya apabila terjadi penyusupan minyak dan gas yang ada di dalam mencapai permukaan, identifikasi dalam kasus ini dikenal sebagai direct detection.  Minyak dan gas yang menyusup keluar terkadang mampu berinteraksi dengan batuan di permukaan, soil, dan vegetasi sehingga mengakibatkan suatu anomali yang dapat menjadi petunjuk keberadaan jebakan hidrokarbon. Misalnya, pada ladang minyak Cement dan Velma di selatan Oklahoma dikelilingi oleh lapisan batupasir yang berwarna merah, namun tepat pada daerah operasi pemboran warna batupasir yang sama cenderung gelap dan keabuan karena besi oksida dalam batupasir teroksidasi oleh karbon yang keluar, mineral gypsum tergantikan oleh kalsit, selain itu setiap mineral dengan unsur karbon memiliki harga isotop atom C yang tidak wajar.
Citra foto udara juga dapat dianalisis untuk mengidentifikasi setiap spektrum warna yang ditimbulkan dari alterasi mineralogi yang terjadi pada lapisan batuan di sekitar ladang minyak. Selain identifiksi warna, kondisi anaerobik yang dipegaruhi oleh gas metana dan etana dapat mempengaruhi pertumbuhan beberapa tanaman sehingga diperoleh keberadaan tanaman tertentu pada lokasi di atas jebakan hidrokarbon, misalnya pohon oak dan hickory yang menggantikan pohon maple karena kondisi soil anaerobik di sekitar Pegunungan Appalachia.
4.2 Eksplorasi Mineral
Metode penginderan jauh dengan foto udara terbukti sangat bermanfaat dalam membantu usaha eksplorasi mineral. Beberapa hal yang dapat diperoleh dari hasil interpretasi foto udara yang berhubungan dalam eksplorasi mineral antara lain: pemetaan pola kelurusan regional yang berhubungan dengan keberadaan lokasi-lokasi pertambangan, pemetaan pola rekahan lokal yang mungkin mengontrol keberadaan jebakan mineral, deteksi hidrotermal dari batuan teralterasi yang berasosiasi dengan jebakan mineral, serta basis data pemetaan geologi.
v  Perpotongan rekahan-rekahan lokal
Daerah dengan banyak rekahan yang saling berpotongan ternyata memiliki prospek eksplorasi mineral yang baik. Hal ini dikarenakan mineral - mineral yang terlarut akan terakumulasi pada rekahan tersebut. Rekahan lokal ini dapat dipetakan melalui pengamatan citra Landsat yang dipebesar, khususnya apabila citra diperoleh pada saat posisi matahari dekat dengan horizon (oblique photo) dan citra telah diproses dengan filter digital untuk mempertajam kenampakan rekahan.


v  Interpretasi pola - pola kelurusan.
Lokasi-lokasi pertambangan berdiri di atas suatu zona mineralisasi yang biasanya berpola linear. Pola-pola kelurusan ini memiliki kisaran panjang dari ratusan hingga ribuan kilometer, dan telah ditemukan banyak deposit mineral melalui eksplorasi yang dilakukan di sepanjang pola - pola kelurusan ini. Sehingga, terdapat kecenderungan bahwa lokasi-lokasi pertambangan tidak tersebar secara acak melainkan berdiri di atas zona yang berbentuk linear. Selanjutnya, dengan bantuan foto udara, geologist mampu memberikan evaluasi tentang hubungan antara jebakan mineral dengan pola-pola kelurusan.
v  Pemetaan Hidrotermal Batuan Teralterasi
Mineral-mineral biasanya akan terakumulasi pada tubuh batuan induk oleh media fluida bertemperatur tinggi yang disebut hydrothermal solutions. Fluida ini akan bereaksi kimiawi dengan batuan induk hingga membentuk batuan teralterasi dengan susunan kimia tambahan berupa mineral yang dibawa fluida tadi. Lokasi akumulasi mineral ini tidak tampak dari permukaan, melainkan melalui proses pengangkatan dan erosi yang terus-menerus membentuk suatu singkapan yang kemudian dapat diamati sebagai jebakan mineral. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua batuan teralterasi berasosiasi dengan jebakan mineral, begitu pula sebaliknya, tidak semua jebakan mineral ditandai dengan keberadaan batuan teralterasi. Namun, adanya zona alterasi terkadang dapat menjadi indikator kemungkinan keberadaan jebakan mineral. Pada suatu daerah dengan tubuh batuan yang tersingkap penginderan jauh multispektral sangat membantu dalam mengenali keberadaan batuan teralterasi, disebabkan oleh pantulan spektrum yang diterima memiliki perbedaan antara batuan yang tidak teralterasi dengan batuan yang mengalami alterasi. Sehingga akan tampak jelas perbedaan hasil pantulan spektrum tersebut ketika diubah dalam citra, khususnya apabila dapat diperjelas dengan penggunaan warna tambahan. Dalam kasus ini dapat dicontohkan berupa perolehan mineral tembaga dari batuan beku porfiritik seperti granit porfiri. Pembentukan Granit porfir dapat menembus batuan induk yang lebih tua hingga kedalaman beberapa kilometer dari permukaan tanah. Granit porfiri dan tubuh batuan induk yang terpotong akan mengalami perekahan intensif selama pedinginan. Panas magma yang berada jauh di kedalaman menimbulkan arus konveksi hidrotermal yang dapat bergerak melalui celah-celah rekahan batuan dan menghasilkan alterasi mineral tembaga pada batuan porfiri dan batuan induk di sekitarnya. Pengaruh deformasi struktural, erosi, dan deposisi akan menyingkap granit porfir sebagai batuan hasil alterasi. Beberapa lokasi penambangan mineral tembaga dari batuan beku porfiritik yang telah dideteksi dengan penginderaan jauh (dengan  Landsat TM dan Airborne TMS) yaitu penambangan Silver Bell, Helvetia, dan Safford yang berlokasi di selatan Arizona, Amerika Serikat.
v  Basis Data Untuk Pemetaan Geologi
Selain untuk mengetahui lokasi jebakan mineral melalui pengamatan kelurusan, rekahan, dan alterasi batuan, foto udara dapat memberikan data dalam pembuatan dan penyempurnaan peta geologi yang merupakan perangkat dasar dari eksplorasi geologi. Pada peta geologi dengan skala kecil tidak mampu memetakan detail suatu lokasi. Misalnya, diperkirakan dua pertiga wilayah selatan Afrika kekurangan peta geologi berskala 1 : 500.000 ataupun dengan skala yang lebih besar. Ketika citra Landsat pertama kali digunakan pada wilayah ini, ternyata ditemukan suatu patahan yang kemudian dinamakan Tantalite Valley fault zone. Patahan tampaknya berupa right-lateral strike-slip fault dan dipetakan sepanjang 450 Km. Dijumpai banyak intrusi batuan beku basa (mafic) yang tersingkap pada zona patahan dan singkapan ini dapat dikenali dengan mudah dengan citra Landsat. Pada lokasi lain di Nabesna, Alaska Tengah, dengan memanfaatkan kombinasi analisis lineament dan proses digital dari data Landsat MSS dalam evaluasi keberadaan potensi jebakan mineral, diindikasikan bahwa 56 persen jebakan mineral berada sepanjang 1,6 Km dari lineamen Landsat. Warna buatan yang dihasilkan menunjukkan sekitar 72 persen merupakan lokasi mineral dan sisanya merupakan area batuan alterasi dan area eksplorasi yang potensial.
4.3    Pemetaan Daerah Bencana Alam
Film pankromatik sering digunakan bersamaan dengan kamera pemetaan untuk menaksir kerusakan, karena :
v  Memiliki cakupan ruang gerak yang lebar dan sesuai untuk berbagai kondisi pencahayaan,
v  Memiliki kemampuan untuk menembus tingkat perlakuan atmosferik yang berbeda saat dilakukan penyaringan (filtering) dengan tepat,
v  Memiliki resolusi yang bagus (beberapa film dapat diperbesar lebih dari 15 kali tanpa kehilangan gambar yang detail), dan
v  Memiliki kemampuan memproses dan mencetak pada waktu yang tepat.
Skala pemotretan udara yang berbeda digunakan untuk variasi jenis penaksiran tempat-tempat yang mengalami kerusakan. Foto skala kecil (misalnya 1 : 50.000 atau lebih kecil lagi) biasa digunakan untuk mempelajari zone-zone kerusakan yang terbatas dalam suatu kenampakan wilayah yang besar (Gambar 12). sedangkan pemotretan udara skala sedang (misalnya 1 : 20.000 sampai 1 : 50.000) memberikan kenampakan yang cukup detail terhadap wilayah yang dilanda bencana.
4.4  Pemetaan geologi daerah pantai dan pesisir
Wilayah dan garis pantai Indonesia sangat panjang dan luas, hanya sedikit sekali data yang diketahui mengenai jumlah kandungan sumber daya alam yang dimiliki (mineral dan bahan galian, sumber daya air, lahan) maupun kondisi lingkungannya secara pasti. Pemetaan pada daerah pantai sulit dilakukan karena sukarnya diperoleh singkapan batuan, asesibilitas sukar (rawa pantai) dan mahal karena sebagian besar harus dilakukan melalui survei bawah permukaan (geofisika dan pemboran). Sebaliknya daerah pantai dan pesisir merupakan wilayah ekonomi yang potensial sebagai lahan pemukiman, prasarana perhubungan, jasa industri dan sebagainya.
Secara umum wilayah pantai dan pesisir dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok dalam kaitannya dengan proses pembentukannya, Pengelompokan secara garis besar dapat dilakukan sebagai berikut.
v Proses endogenik : pantai gunungapi, pantai terangkat (uplifted dan tilted).
v Proses eksogenik: aktivitas laut (oseanografi), proses sedimentasi dari darat dan laut dan gabungan keduanya.
v Proses biogenik : pembentukan terumbu karang dan hutan bakau
Oleh karena itu, untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan waktu, biaya, dan tenaga pada saat memetakan sumberdaya alam wilayah pesisir pantai, maka dapat dilakukan interpretasi citra foto udara guna mendapatkan informasi dasar mengenai wilayah yang akan di petakan secara mendetail tersebut. 


4.5 Bidang Kehutanan
Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk diambil hasil kayunya termasuk perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaan dan perlindungan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra foto udara akan sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan yang terjadi secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.

4.6 Penggunaan Lahan
Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukung lahan tersebut. Integrasi foto udara teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya permukiman.

4.7 Bidang Pembuatan Peta
Peta citra merupakan citra foto udara yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi. Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar